Jumat, 01 Mei 2015

Bab V Translasi Mata Uang Asing

Ø  Perbedaan translasi dan konversi antar mata uang asingTranslasi mata uang asing adalah proses pelaporan infrormasi keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya. Sedangkan konversi mata uang asing adalah pertukaran dari satu mata uang ke mata uang lain secara fisik.

Ø  Istilah-istilah dalam translasi mata uang asing
1.      Sifat, karakteristik sebuah item yang dapat dihitung dan diukur untuk kebutuhan akuntansi. Sebagai contoh, harga perolehan dan harga penggantian merupakan atribut sebuah saham.
2.      Konversi. Translasi satu mata uang asing dengan mata uang asing lainnya.
3.      Kurs saat ini. Tingkat arus uang yang berpengaruh pada tanggal laporan keuangan.
4.      Potongan. Saat nilai tukar forward berada dibawah nilai tukar spot.
5.      Posisi saham yang terlihat. Kelebihan asset yang dihitung atau digunakan dalam mata uang asing dan ditranslasikan pada kurs saat ini diatas uatang yang dihitung atau digunakan dalam mata uang asing dan ditranslasikan pada kurs saat ini.
6.      Mata uang asing. Sebuah mata uang yang dipilih dibandingkan mata uang Negara lainnya; sebuah mata uang pada laporan keuangan yang digunakan perusahaan.
7.      Laporan keuangan mata uang asing. Laporan keuangan yang menggunakan mata uang asing sebagai sebuah unit perhitungan.
8.      Transaksi mata uang asing. Transaksi (seperti penjualan atau pembelian barang atau layanan atau pembayaran peminjaman atau penerimaan) yang perjanjiannnya dinyatakan dalam sebuah mata uang daripada keseluruahan mata uang fungsional.
9.      Translasi mata uang asing. Proses penjabaran jumlah atau hitungan menggunakan satu mata uang yang dipilih oleh nilai tukar antara dua mata uang.
10.  Operasional asing. Sebuah kegiatan operasional yang laporan keuangannya adalah meggabungkan atau konsolidasi akuntansi dalam dasar ekuitas laporan keungan pada laporan perusahaan, dan mempersiapkan laporan perusahaan dalam satu mata uang.
11.  Kontrak translasi forward. Sebuah perjanjian untuk melakukan translasi mata uang dari Negara yang berbeda dengan tingkat yang spesifik (forward rate) dan waktu yang disepakati.
12.  Mata uang fungsional. Mata uang utama yang digunakan dalam bisnis dan penghasilan serta penyimpanan uang. Biasanya mata uang satu Negara yang dijadikan sebuah acuan dimana diatur dalam buku arsip.
13.  Kurs historis. Nilai tukar mata uang asing yang berlaku saat asset atau kewajiban dengan mata uang asing pertama kali didapatkan.
14.  Mata uang local. Mata uang Negara tertentu yang menjadi acuan; acuan laporan keuangan domestic atau operasional asing.
15.  Item moneter. Kewajiban untuk membayar atau hak untuk mendapatkan sejumlah unit mata uang dimasa yang akan dating.
16.  Mata uang pelaporan. Mata uang yang perusahaan gunakan dalam laporan.
17.  Tanggal penyelesaian. Waktu penerimaan ditagihkan atau pembayaran dilakukan.
18.  Kurs spot. Nilai tukar saat itu terhadap mata uang.
19.  Tanggal transaksi. Tanggal dimana terjadinya transaksi (seperti penjualan atau pembelian produk atau layanan) yang dicatat dalam pembukuan.
20.  Penyesuaian translasi. Penyesuaian translasi mata uang asing merupakan hasil dari proses translasi mata uang asing laporan keuangan dari mata uang fungsional ke mata uang asing.
21.  Unit pengukuran. Mata uang dimana asset, kewajiban, pendapatan, dan beban dihitung.

Ø  Keuntungan dan kerugian translasi mata uang asing
1.      Penangguhan. Translasi mata uang asing penangguhan pada keuntungan dan kerugian menutupi pergerakan perubahan nilai tukar, yaitu perubahan nilai tukar adalah fakta historis.
2.      Penangguhan dan amortisasi. Beberapa perusahaan menangguhkan keuntungan dan kerugian serta mengamortisasi penyesuaian melebihi umur manfaatnya pada masa item neraca terkait.
3.      Penangguhan sebagian. Dengan mengakui kerugian segera saat terjadinya, akan tetapi mengakui keuntungan hanya jika terealisasi saja.
4.      Tidak ada penangguhan. Memandang segala tipe penangguhan adalah palsu dan salah. Criteria penangguhan sering kali dianggap tidak konsisten dan sulit diimplementasikan.

Ø  Metode translasi mata uang asing
1.      Metode nilai tukar tunggal
Metode ini mengaplikasikan nilai tukar tunggal, harga penutupan atau harga saat ini, terhadap semua saham dan mata uang asing. Pendapatan dan beban mata uang asing secara umum ditranslasikan pada nilai tukar yang berlaku saat item tersebut diakui.2.      Metode nilai tukar ganda
Metode nilai tukar ganda mengombinasikan kurs saat ini dan kurs historis dalam proses translasi mata uang asingnya.

a.       Metode current-noncurrent
Pada metode  current moment, asset lancer yang dimiliki anak perusahaan pada saat itu (contoh, asset yang biasanya bisa dikonversikan ke kas dalam satu tahun) dan utang lancar (kewajiban yang jatuh tempo dalam satu tahun) ditranslasikan ke dalam mata uang induk perusahaan mereka pada laporan keuangannya dengan kurs saat ini. Aset dan kewajiban noncurrent ditranslasikan pada kurs historis. Item laporan laba rugi (kecuali untuk biaya depresiasi dan amortisasi) ditranslasikan pada aplikasi tingkat rata-rata operasional tiap bulan atau pada rata-rata dasar tambahan yang mencakup seluruh periode dilaporkan. Biaya depresiasi dan amortisasi ditranslasikan pada kurs historis dengan pengaruh saat modal yang dimiliki didapatkan.

b.      Metode moneter-nonmoneter
Metode moneter-nonmoneter juga menggunakan skema klasifikasi neraca untuk menentukan nilai tukar mata uang asing yang sesuai. Asset dan kewajiban moneter (contoh, klaim dan kewajiban untuk membayar sejumlah tagihan dengan mata uang dimasa yang akan datang) ditranslasikan dalam kurs saat ini. Item nonmoneter (asset tetap, investasi jangka panjang dan persediaan) ditranslasikan dalam kurs historis. Item laporan laba rugi ditranslasikan dengan prosedur yang sama dengan yang dijelaskan untuk konsep current-noncurrent.

c.       metode kurs sementara
dengan metode kurs sementara, translasi mata uang asing tidak mengubah sifat sebuah item yang dihitung. Hal tersebut hanya mengubah unit perhitungan saja. Pada metode kurs sementara, item moneter seperti kas, piutang dan utang ditranslasikan dalam kurs nilai saat itu. Item nonmoneter ditranslasikan pada kurs yang menjada dasar perhitungan awal. Secara spesifik, asset yang dihitung harga perolehannya pada laporan dengan mata uang asing ditranslasikan pada kurs historis.

Bab IV Pelaporan Pengungkapan

   Standar dan praktik pengungkapan dipengaruhi oleh sumber-sumber keuangan, undang-undang, berhubungan dengan politik dan ekonomi, tingkat perkembangan ekonomi, pendidikan, budaya dan faktor-faktor lainnya. Perbedaan pengungkapan nasional sebagian besar didorong oleh perbedaan pengelolaan dan keuangan perusahaan.

Ø  Pengungkapan akuntansi dipengaruhi oleh perbedaan tata kelola keuangan perusahaan disuatu Negara
1.      Pengungkapan sukarela
   Manajer berinisiatif untuk mengungkapkan informasi secara sukarela. Manajer memiliki informasi yang lebih baik daripada pihak luar mengenai performa perusahaan saat ini dan kedepannya. Keuntungan dari pengungkapan tersebut mungkin menyangkut biaya transaksi yang lebih rendah dan perdagangan sekuritas perusahaan, bunga yang lebih tinggi dari analisis keuangan dan investasi, meningkatkan likuiditas saham dan biaya modal yang lebih rendah. Laporan terkini menyokong pandangan bahwa perusahaan bisa mencapai keuntungan merupakan tuntutan bagaimana perusahaan bisa menggambarkan dan menjelaskan investasi potensial kepada investor. Investor diseluruh dunia menuntut informasi yang mendetail dan berkala. Komunikasi manajer dengan investor luar tidak sempurna ketika manajer memiliki informasi kuat tentang perusahaan mereka, insentif manajer tidak sesuai dengan bunga dari semua pemegang saham, dan peraturan akuntansi dan audit tidak sempurna. Dengan demikian, pemilihan pengungkapan manajer mencerminkan keseluruhan akibat keperluan pengungkapan dan insentif mereka untuk menguraikan informasi.

2.      Kebutuhan pengaturan pengungkapan
   Untuk melindungi investor, sebagian besar bursa sekuritas menentukan pelaporan dan kebutuhan penungkapan pada perusahaan domestic dan asing yang mencari akses untuk pasar mereka. Bursa ini memastikan bahwa investor memiliki informasi yang cukup untuk memperbolehkan mereka mengevaluasi kinerja dan prospek perusahaan.Frost dan long mencatat, proteksi investor mewajibkan bahwa investor menerima informasi secara berkala dan diproteksi dengan pengawasan dan pelaksanaan. Pengungkapan yang menyeluruh dan dapat dipercaya akan meningkatkan likuiditas, mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan kualitas pasar secara keseluruhan.

Ø  Persoalan-persoalan penting yang memengaruhi keputusan manajemen untuk membuat pengungkapan keputusan
1.      Bukti-bukti mengindikasikan bahwa manajer perusahaan sering memiliki insentif yang besar untuk menunda pengungkapan berita buruk “mengatur” laporan keuangan mereka untuk memastikan kesan perusahaan yang lebih positif dari menekankan keadaan dan prospek keuangan perusahaan.

2.      Banyak Negara tidak mengawasi dan melaksanakan kebutuhan akan  “pengungkapan kesesuaian antar-yurisdiksi”

Ø  Tujuan pengungkapan akuntansi dalam pasar ekuitas
1.      Untuk memastikan bahwa pemegang saham menerima informasi lengkap, berkala dan akurat.
2.      Untuk mengevaluasi kinerja dan prospek keuangan
3.      Untuk meningkatkan kepercayaan investor
4.      Untuk memahami bagian-bagian perusahaan

Ø  Praktik pengungkapan keuangan perusahaan dalam berbagai aspek
1.      Pengungkapan informasi progresif
   Adalah pertimbangan tinggi yang relevan di dalam kesetaraan pasar dunia. Istilah informasi progresif meliputi:a.       Perkiraan pendapatan, laba (rugi), arus kas, pengeluaran modal dan hal-hal keuangan lainnya.
b.      Tujuan informasi mengenai kinerja dan posisi ekonomi  dimasa depan yang tidak menentu daripada perkiraan menyangkut proyek, periode fiscal dari proyek jumlah
c.       Laporan program dan sasaran manajemen untuk usaha masa depan

2.      Pengungkapan segmen   Investor dan analisis menuntut informasi hasil perusahaan industry dan segmen geografis usaha dan keuangan signifikan dan berkemabang. Pengungkapan segmen lebih membantu pengguna laporan leuangan untuk memahami bagian0bagian perusahaan menata semuanya. Pemisahan jalur usaha dan area geografis harus membuat penilaian yang lebih terpapar tentang keseluruhan perusahaan.

3.      Pelaporan pertanggungjawaban sosial
   Laporan pertanggungjawaban social mengacu pada pengukuran dan komunikasi informasi tentang pengaruh perusahaan terhadap kemakmuran pegawai, komunitas social dan lingkuungan. Hal ini mencerminkan sebuah kepercayaan bahwa perusahaan bergantung pada pemegang saham dalam laporan tahunan kinerja terhadap lingkungan dan social mereka seperti halnya laporan keuangan yang mereka berikan pada pemegang saham.

4.      Pengungkapan khusus bagi pengguna laporan keuangan non domestic
   Laporan tahunan bisa meliputi pengungkapan khusus untuk mengakomodasi pengguna laporan keuangan non domestic. Pengungkapan tersebut meliputi :a.       “Laporan ulang yang mudah”  tentang informasi keuangan ke dalam mata uang asing
b.      Pembahasan perbedaan antara prinsip akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan utama dan beberapa ketetapan prinsip akuntansi lainnya.
c.       Posisi dan laporan keuangan ulang terbayas diketetapan standar akuntansi yang kedua
d.      Sebuah laporan keuangan lengkap disiapkan yang berhubungan dengan ketetapan prinsip akuntansi kedua

5.      Pengungkapan pengelolaan perusahaan
   Pengelolaan perusahaan berhubungan dengan sarana internal dimana perusahaan dijalankan atau dikendalikan-tanggung jawab, akuntabilitas hubungan diantara pemegang saham, anggota direksi dan manajer yang disusun supaya mencapai sasaran perusahaan. Komponen rancangan kerja adalah infrastruktur pasar, lingkungan bukum, lingkungan peraturan, infrastruktur informasi.

6.      Pengungkapan dan laporan bisnis dan internet
   Web bisa digunakan untik penyebaran informasi interaktif yang tidak serupa dengan media cetak. Investor sering menggunakan web untuk berdagang dan mengambil keputusan investasi modal, dan menggunakan web sebagai sebuah sarana informasi penting.

Selasa, 31 Maret 2015

Kasus 2-1 Apakah Klasifikasi Akuntansi Telah Ketinggalan Zaman ?

1.      Apakah anda setuju dengan pendapat yang dikemukakan Cairn bahwa klasifikasi akuntansi terlalu sederhana dan kurang relevan dalam dunia saat ini ? Apakah usaha-usaha untuk mengklasifikasikan skuntansi tidak bermanfaat dan ketinggalan zaman ? Mengapa atau mengapa tidak ?
Jawaban : tidak setuju, karena akuntansi saat ini sudah cukup berkembang. Dalam proses penyajiannya sudah ada standarnya, seingga akan lebih mudah dalam proses pengambilan keputusan. Klasifikasi akuntansi sebenarnya memiliki manfaat bagi perkembangan akuntansi untuk mengetahui sejauh mana kegiatan akuntansi mampu mengembangkan sistem akuntansi yang sudah ada dilingkungan perusahaan untuk menghasilkan informasi dalam proses pengambilan keputusan.

2.      Beberapa pengamat berpendapat bahwa pelaporan keuangan semakin mirip di kalangan perusahaan “kelas dunia” perusahaan-perusahaan multinasional terbesar di dunia dan khususnya yang mencatatkan sahamnya di bursa efek utama seperti London, New York, dan Tokyo. Apakah relevansinya pendapat ini terhadap klasifikasi akuntansi dan apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini ?

Jawaban : pelaporan keuangan pada perusahaan “kelas dunia” saat ini sudah menyesuaikan dengan prinsip laporan keuangan perusahaan multinasional lainnya agar dapat digunakan sebagai sarana informasi bagi pengguna di seluruh dunia. Faktor yang dapat menyebabkan hal ini adalah kemajuan teknologi yang sangat cepat saat ini dalam mengakses informasi.

BAB 3 AKUNTANSI KOMPARATIF

  • ·         Istilah standar akuntansi dan penentuan standar
    7.000 sampai 8.000 perusahaan Eropa yang terdaftar sekarang harus meyiapkan laporan keuangan konsolidasi mereka yang sesuai IFRS. Akan tetapi sekitar 3 juta perusahaan Eropa yang tidak terdaftar tidak terpengaruh secara langsung oleh persyaratan IFRS. Beberapa istilah dari standar akuntansi, adalah :
    -           Pelaporan keuangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip akuntansi berlaku umum (GAAP)
    -           IFRS (International Financial Reporting Standards)
    -           IASB (International Accounting Standards Board)

    ·         Perbedaan prakter akuntansi dengan standar akuntansi yang ditentukan
          Standar akuntansi merupakan hasil dari susunan standar. Praktik yang sebenarnya bisa saja menyimpang dari apa yang diharuskan standar, karena pertama, dibanyak Negara hukuman untuk kegagalan dengan pernyataan akuntansi resmi dianggap lemah atau tidak efektif. Perusahaan tidak selalu mengikuti standar yang ada jika tidak dipaksakan. Kedua, perusahaan bisa dengan sukarela melaporkan lebih banyak informasi daripada yang diharuskan. Ketiga, beberapa Negara mengizinkan perusahaan untuk keluar dari jalur standar akuntansi jika hal tersebut bisa menggambarkan hasil operasi dan posisi keuangan perusahaan dengan lebih baik.
          Susunan standar biasanya menggabungkan kombinasi dari kelompok-kelompok sektor umum dan sektor swasta. Sektor swasta meliputi profesi akuntansi dan kelompok-kelompok lain yang dipengaruhi oleh proses pelaporan keuangan, seperti pengguna dan penyusun laporan keuangan dan pegawai. Sektor umum meliputi perwakilan-perwakilan seperti petugas pajak, perwakilan pemerintah yang bertanggung jawab atas hukum komersial, dan komisi keamanan. Pasar saham bisa memengaruhi proses tersebut dan bisa berada pada pihak sektor umum atau swasta, bergantung pada negaranya. Peran dan pengaruh kelompok-kelompok ini dalam menyusun standar akuntansi berbeda di setiap Negara. Perbedaan ini membantu menjelaskan kenapa setiap standar berbeda di seluruh Negara.

    ·         Sistem akuntansi di Negara-negara maju
    -           Prancis
                Setiap perusahaan harus membuat panduan akuntansi jika dianggap perlu untuk memahami dan mengatur proses akuntansi. Pada tingkat minimum, panduan tersebut meliputi grafik keuangan dan penjelasan tentang keseluruhan sistem akuntansi, deskripsi semua prosedur pengolahan dan pengaturan data, sebuah pernyataan komprehensif tentang prinsip-prinsip akuntansi yang mendasari laporan keuangan tahunan, dan prosedur yang digunakan dalam mandat akuntansi persediaan tahunan.
                Perusahaan-perusahaan Prancis yang terdaftar mengikuti IFRS dalam laporan keuangan gabungan mereka, dan perusahaan-perusahaan yang tidak terdaftar juga memiliki pilihan ini. Namun, semua perusahaan Prancis harus mengikuti regulasi tetap dari ketentuan pada tingkat perusahaan pribadi. Akuntansi untuk perusahaan pribadi merupakan dasar hukum untuk membagikan deviden dan menghitung penghasilan wajib pajak

    -           Jerman
                Laporan keuanga lebih banyak pengungkapan, penggabungan terbatas, dan laporan manajemen perusahaan. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan pajak dan yang dipublikasikan dalam laporan keuangan tidak dibedakan.
                Akuntansi Jerman tergantung pada keputusan Undang-undang dan pengadilan. Ada dua undang-undang, yaitu perusahaan yang mengeluarkan ekuitas atau utang pada pasar modal resmi untuk menggunakan prinsip akuntansi internasional dalam laporan keuangan gabungan mereka, dan penetapan perusahaan sektor swasta untuk menyusun standar akuntansi bagi laporan keuangan gabungan.

    -           Republik Ceko
                Akuntansi di Republik Ceko dipengaruhi oleh Commercial Code, Sccountancy Act, dan dekrit Menteri Keuangan. Pasar modal sejauh ini memiliki sedikit pengaruh, dan walaupun jerman merupakan asal Commercial Code, legislasi pajak tidak berpengaruh langsung.
                Proses audit diatur oleh Act on Auditors, yang dikeluarkan pada tahun 1992. Undang-undang ini membentuk Chamber of Auditors, sebuah badan professional yang mengatur dirinya sendiri yang mengawasi pendaftaran, pendidikan, pengujian, dan menertibkan auditor, penyusunan standar audit, dan regulasi praktik audit, seperti format laporan audit.

    -           Belanda
    Belanda memiliki undang-undang akuntansi dan persyaratan laporan keuangan yang cukup bebas, tapi standar praktik professional yang sangat tinggi. Belanda merupajan sebuah Negara hukum, namun akuntansinya diorientasikan ke arah kewajaran penyajian. Laporan keuangan dan akuntansi pajak merupajan dua aktivitas yang terpisah lebih lanjut lagi, orientasi kewajaran dikembangkan tanpa adanya pengaruh kuat dari bursa saham.

    -           Inggris

                Susunan standar Inggris berkembang mulai dari rekomendasi pada prinsip-prinsip akuntansi (dikeluarkan oleh Institute of Chartered Accountants in England and Wales) hingga pada bentuk Accounting Standards Streering Committee pada tahun 1970, yang selanjutnya berganti nama menjadi Accounting Standards Committee (ASC). ASC meresmikan Statement on Standard Accounting Practice (SSAPs). SSAPs dikeluarkan dan dilaksanakan oleh enam dewan akuntansi, yang semuanya bisa memveto standar tersebut. Kekuasan veto dari organisasi-organisasi tersebut sering kali menghasilkan penundaan yang lama dan persetujuan dalam mengembangkan SSAPs. Selain itu, SSAPs lebih bersifat rekomendasi daripada persyarat wajib dan hanya memiliki sedikit otoritas

BAB 2 PERKEMBANGAN DAN KLASIFIKASI AKUNTANSI INTERNASIONAL

·         Faktor yang mempengaruhi perkembangan dunia akuntansi
1.      Sumber pendanaan. Di Negara-negara dengan pasar ekuitas yang kuat, seperti Amerika dan Inggris, akuntansi memiliki focus atas seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas) dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa deoan dan risiko terkait. Pengungkapan dilakukan sangat lengkap untuk memenuhi ketentuan pemilikan publik yang luas. Sebaliknya, dalam sistem berbasis kredit dimana bank merupakan sumber utama pendanaan, akuntansi memiliki fokus pada perlindungan kreditor melalui pengukuran akuntansi yang konserfatif dalam meminimumkan pembayaran dividen dan menjaga pendanaan yang mencukupi dalam rangka perlindungan bagi para peminjam.
2.      Sistem hukum. Sistem hukum menentukan bagaimana individu dan lembaga berinteraksi. Dunia barat memiliki dua orientasi dasar: kodifikasi hukum (sipil) dan hukum umum (kasus). Kodifikasi hukum utamanya diambil dari hukum Romawi da kode Napoleon. Dalam Negara-negara yang menganut sistem kodifikasi hukum Latin-Romawi, hukum merupakan satu kelompok lengkap yang mencakup ketentuan dan prosedur. Hukum umum berkembang atas dasar kasus per kasus tanpa adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus dalam kode lengkap.
3.      Perpajakan. Di kebanyakan Negara, peraturan pajak secara efektif menentukan standar akuntansi karena perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun mereka untuk mengklaimnya dalam keperluan pajak.
4.      Ikatan politik dan ekonomi. Ide dan teknologi akuntansi dialihkan melalui penaklukan, perdagangan, dan kekuatan sejenis. Sistem pencatatan berpasangan (double entry) yang berawal dari Italia pada tahun 1400-an secara perlahan-lahan menyebar luas di Eropa bersamaan dengan gagasan-gagasan pembauran (renaissance) lainnya. Integarasi ekonomi melalui pertumbuhan perdagangan dan arus modal internasional merupakan pendorong kuat akan konvergensi standar akuntansi.
5.      Inflasi. Inflasi mengaburkan biaya historis akuntansi melalui penurunan berlebihan terhadap nilai-nilai asset dan beban-beban terkait, sementara disisi lain melakukan peningkatan berlebihan terhadap pendapatan.
6.      Tingkat perkembangan ekonomi. Faktor ini memengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama. Pada gilirannya, jenis transaksi menentukan masalah akuntansi yang dihadapi.
7.      Tingkat pendidikan. Standar dan praktik akuntansi yang sangat rumit akan menjadi tidak berguna jika disalahartikan dan disalahgunakan. Pendidikan akuntansi yang professional sulit dicapai jika taraf pendidikan disuatu Negara secara umum juga rendah. Pada situasi lainnya, sebuah Negara harus mengimpor tenaga pelatihan atau mengirim warganya ke Negara lain untuk memperoleh kualifikasi yang layak.
8.      Budaya. Disini budaya berarti nilai-nilai dan perilaku yang dibagi oleh suatu masyarakat. Variabel budaya mendasari pengaturan kelembagaan di suatu Negara (seperti sistem hukum).

·         Pendekatan perkembangan akuntansi dalam ekonomi yang berorientasi pasar
      Mueller mengidentifikasikan empat pendekatan terhadap perkembangan akuntansi di  Negara-negara Barat dengan sistem ekonomi berorientasi pasar.
1.      Pendekatan makroekonomi, praktik akuntansi didapatkan dari dan dirancang untik meningkatkan tujuan makroekonomi nasional. Tujuan perusahaan umumnya mengikuti dan bukan memimpin kebijakan nasional, karena perusahaan bisnis mengkoordinasikan kegiatan mereka dengan kebijakan nasional.
2.      Pendekatan mikroekonomi, akuntansi berkembang dari prinsip-prinsip mikroekonomi. Fokusnya terletak pada perusahaan secara individu yang memiliki tujuan untuk hidup. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan harus mempertahankan modal fisik yang dimiliki. Juga sama pentingnya bahwa perusahaan memisahkan secara jelas modal dari laba untuk mengevaluasi dan mengendalikan aktivitas usaha.
3.      Pendekatan disiplin independen, akuntansi berasal dari praktik bisnis dan berkembang secara ad hoc, dengan dasar perlahan-lahan dari pertimbangan, coba-coba, dan kesalahan. Akuntansi dianggap sebagai fungsi jasa yang konsep dan prinsipnya diambil dari proses bisnis yang dijalankan, dan bukan dari cabang keilmuan seperti ekonomi. Bisnis menghadapi kerumitan dunia nyata dan ketidakpastian yang senantiasa terjadi melalui pengalaman, praktik, dan intuisi.
4.      Pendekatan yang seragam, akuntansi distandardisasi dan digunakan sebagai alat untuk kendali administratif oleh pemerintah pusat. Keseragaman dalam pengukuran, pengungkapan, dan penyajian akan memudahkan informasi akuntansi dalam mengendalikan seluruh jenis bisnis. Secara umum, pendekatan seragam digunakan di Negara-negara dengan keterlibatan pemerintah yang besar dalam perencanaan ekonomi dimana akuntansi digunakan antara lain untuk mengukur kinerja, mengalokasikan sumber daya, mengumpulkan pajak, dan mengendalikan harga.

·         Perbedaan antara penyajian wajar dan kepatuhan terhadap hukum dan Negara mana yang dominan penerapannya
1.      Akuntansi dalam Negara-negara hukum umum memiliki karakter berorientasi terhadap “penyajian wajar”, transparansi dan pengungkapan penuh dan pemisahan antara keuangan dan pajak. Pasar saham mendominasi sumber-sumber keuangan dan pelaporan keuangan ditujukan untuk kebutuhan informasi investor luar. Penetuan standar akuntansi cenderung merupakan aktivitas sektor swasta dengan pernana penting yang dimainkan oleh profesi akuntansi.
2.      Akuntansi dalam Negara-negara yang menganut kodifikasi hukum memiliki karakteristik berorientasi legalistik, tidak membiarkan pengungkapan dalam jumlah kurang, dan kesesuaian antara akuntansi keuangan dan pajak. Bank atau pemerintah (“orang dalam”) mendominasi sumber keuangan dan pelaporan keuangan ditujukan untuk perlindungan kreditor. Penentuan standar akuntansi cenderung merupakan aktivitas sektor public dengan relative sedikit pengaruh dari profesi akuntansi.

      Perbedaan antara penyajian wajar dan kesesuaian hukum menimbulkan pengaruh yang besar terhadap banyak permasalahan akuntansi, seperti :
1.      Depresiasi, dimana beban ditentukan berdasarkan penurunan kegunaan suatu asset selama masa manfaat ekonomi (penyajian wajar) atau jumlah yang ditentukan untuk tujuan pajak (kepatuhan hukum)
2.      Sewa guna usaha yang memiliki substansi pembelian asset tetap (properti) diperlakukan seperti sewa operasi yang biasa (kepatuhan hukum)
3.      Pensiun dengan biaya yang diakui pada saat dihasilkan oleh karyawan (penyajian wajar) atau dibebankan menurut dasar dibayar pada saan berhentu bekerja (kepatuhan hukum).

Ø  Belanda dan Meksiko merupakan Negara-negara yang menganut kodifikasi hukum dengan akuntansi “penyajian wajar”.

Ø  Beberapa Negara tertentu di Amerika Selatan memiliki akuntansi dengan kesesuaian terhadap hukum. Akan tetapi dengan penyesuaian terhadap inflasi.

BAB 1 PENDAHULUAN

·         Akuntansi Internasional berbeda dengan akuntansi lainnya
Akuntansi memainkan peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Sebagai cabang dari ilmu ekonomi, akuntansi menyediakan informasi mengenai perusahaan dan transaksinya untuk memfasilitasi keputusah alokasi sumber daya oleh para pengguna informasi tersebut. Jika informasi yang dilaporkan dapat diandalkan dan bermanfaat, maka sumber daya yang terbatas itu dapat dialokasikan secara optimal, dan sebaliknya alokasi sumber daya menjadi kurang optimal jika informasi kurang andal dan tidak bermanfaat.
Sebuah perusahaan yang beroperasi semata-mata di dalam batasan-batasan suatu Negara tertentu tidak lagi tersekat dan dipisahkan dari aspek-aspek akuntansi yang bersifat internasional. Hal ini karena ketergantungan kepada pemasok internasional yang menuntut untuk menekan biaya produksi dan berupaya untuk selalu kompetitif secara global, semua ini telah menjadi sesuatu yang umum dan wajar dalam bisnis dewasa ini.

·         Tiga bidang akuntansi internasional
Akuntansi mencakup beberapa proses luas, yaitu :
1.      Pengukuran adalah proses mengidentifikasi, mengelompkkan, dan menghitung aktiva ekonomi atau transaksi.
2.      Pengungkapan dalah proses dimana pengukuran akuntansi dikomunikasikan kepada para pengguna yang diharapkan.
3.      Auditing adalah proses dimana kalangan professional akuntansi khusu (auditor) melakukan atestasi (pengujian) terhadap keandalan proses pengukuran dan komunikasi.

·         Sejarah Akuntansi Internasional dan trend kebijakan sektor keuangan internasional
Sejarah akuntansi merupakan sejarah internasional. Dimana sistem pembukuan berpasangan (double-entry bookkeeping), yang umumnya dianggap sebagai awal penciptaan akuntansi yang kita ketahui hari ini, berawal dari Negara-negara kota di Italia pada abad ke-14 dan 15. Perkembangannya didorong oleh pertumbuhan perdagangan internasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi komersial. “Pembukuan ala Italia” kemudian beralih ke Jerman untuk membantu para pedagang pada zaman Fugger dan kelompok Hanseatik. Pada waktu yang hampir bersamaan, para fiilsuf bisnis di Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan periodik dan aparat pemerintah di Perancis menemukan keuntungan merupakan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas pemerintah.
Pembukuan berpasangan mencapai kepulauan Inggris. Perkembangan Inggris Raya menciptakan kebutuhan yang tidak terelakkan lagi bagi kepentingan komersial Inggris untuk mengelola dan mengendalikan perusahaan di daerah koloni, dan untuk pencatatan perusahan colonial mereka yang akan diperiksa ulang dan diverifikasi. Kebutuhan-kebutuhan ini menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi pada tahun 1850-an dan suatu profesi akuntansi publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris selama tahun 1870-an. Praktik akuntansi Inggris menyebar luas tidak hanya di seluruh Amerika Utara, tetapi juga di selurug wilayah Persemakmuran Inggris yang ada waktu itu.
Sistem akuntansi Perancis menemukan tempatnya di Polinesia dan wilayah-wilayah di Afrika yang ada dibawah pemerintah Perancis, sedangkan kerangka pelaporan sistem Jerman terbukti berpengaruh di Jepangm Swedia, dan Kekaisaran rusia.
Seiring dengan kekuatan ekonomi Amerika Serikat yang tumbuh selam paruh pertama abad ke-20, kerumitan-kerumitan masalah-masalah akuntansi muncul juga secara bersamaan. Sekolah-sekolah bisnis membantu perkembangan tersebut dengan merumuskan bidang-bidang masalah dan pada akhirnya mengakui sebagai suatu disiplin ilmu akademik sendiri pada berbagai sekolah tinggi dan universitas. Setalah Perang Dunia II, pengaruh akuntansi makin terasa dengan sendirinya pada Dunia Barat, khususnya di Jerman dan Jepang. Pada tingkatan yang agak kurang, factor yyang sama juga dapat dilihat secara langsung di Negara-negara seperti Brasil, Israel, Meksiko, Filipina, Swedia, dan Taiwan.

·         Peran akuntansi dalam bidang usaha dan pasar modal global
Data statistic memperlihatkan bahwa dalam arus modal lintas batas Negara telah melonjak naik menjadi lebih dari dua puluh kali lipat sejak tahun 1990. Sementara itu, nilai penawaran sekuritas internasional telah melonjak lebih dari empat kali lipat dalam periode yang sama, dan saat ini telah melampaui nilai lebih dari 1,5 triliun dolar.


Dengan makin terintegrasinya pasar keuangan, kita juga menyaksikan adanya peningkatan dalam jumlah perusahaan yang terdaftar pada berbagai bursa efek di seluruh dunia. Beberapa pengamat memperkirakan bahwa dalam kurun waktu yang cukup singkat, pasar keuangan dan perdagangan akan didominasi oleh dua atau tiga bursa efek dunia yang beroperasi lintas benua. Hal ini akan secara signifikan meningkatkan ketebukaan perusahaan-perusahaan internasional bagi para investor internasional.

Minggu, 09 November 2014

Tugas 2 Softskill - Contoh Jurnal

PENGARUH PROFESIONALISME AUDITOR dan ETIKA PROFESI TERHADAP PERTIMBANGAN TINGKAT MATERIALITAS
A.M.KURNUAWANDA
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Jambi
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membuktikan secara empiris tentang Pengaruh Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi secara simultan dan parsial terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Analisis data dilakukan dengan metode regresi linier berganda dan pengujian hipotesis dengan uji simultan (Uji F) dan uji parsial (uji t). penelitian ini menggunakan data primer dan diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 9 KAP di Kota Palembang. Populasi penelitian ini adalah auditor independen yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Palembang yang berjumlah 9 KAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Profesionalisme Auditor yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Kewajiban Sosial, dan Hubungan Sesama Profesi yang tidak mempunyai pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Akan tetapi Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, dan Etika Profesi secara parsial mempunyai pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas
Kata Kunci : Profesionalisme Auditor, Etika Profesi, Materialitas
PENDAHULUAN
            Di era globalisasi sekarang ini, dimana bisnis tidak lagi mengenal batas Negara, kebutuhan akan laporan keuangan yang dapat dipercaya tidak dapat dielakkan lagi. Eksternal auditor yang independen menjadi salah satu profesi yang dicari. Profesi auditor diharapkan oleh banyak orang untuk dapat meletakkan kepercayaan pada pemeriksaan dan pendapat yang diberikan sehingga profesionalisme menjadi tuntutan utama seseorang yang bekerja sebagai auditor eksternal.
            Gambaran seseorang yang profesional dalam profesi eksternal auditor dicerminkan dalam lima dimensi menurut Hall R Syahrir, (2002 : 7), yaitu 1. Pengabdian pada profesi, 2. Kewajiban sosial, 3. Kemandirian, 4. Kepercayaan pada profesi, 5. Hubungan dengan rekan seprofesi. Eksternal auditor yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan memberikan kontribusi yang dapat dipercaya oleh para pengambil keputusan. Untuk memenuhi perannya yang membutuhkan tanggung jawab besar, eskternal auditor harus mempunyai wawasan yang luas dan pengalaman yang memadai sebagai eksternal auditor.
            Berdasarkan latar belakangan masalah yang telah diuraikan, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah apakah profesionalisme auditor dan etika profesi secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas ?. adapun untuk menguji dan membuktikan secara empiris bahwa profesionalisme auditor dan etika profesi berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
METODE PENELITIAN
1.    Operasionalisasi Variabel
Pada penelitian ini variable independennya adalah profesionalisme auditor yang terdiri dari pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan pada profesi, kewajiban sosial, hubungan dengan sesama profesi dan etika profesi. Sedangkan variable dependennya adalah pertimbangan tingkat materialitas. Pengabdian pada profesi adalah dedikasi profesional dengan kecakapan yang dimiliki serta tetap melaksanakan tugasnya meskipun imbalan intrinsiknya berkurang. Kewajiban sosial adalah pandangan tentang pentingnya peranan profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat maupun profesional karena adanya pekerjaan tersebut. Kemandirian merupakan suatu pandangan seorang profesional yang harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain. Keyakinan pada profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang dalam menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesame profesi, bukan orang luar yang tidak mempunyai kompetem dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka. Hubungan dengan sesama profesi menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk didalamnya organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan. Etika profesi merupakan kode etik IAPI dan aturan etika Kompartemen Akuntan Publik, Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) dan standar pengendalian mutu auditing merupakan acuan yang baik untuk mutu auditing (Agoes, 2004).
2.    Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah auditor independen yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Palembang yang berjumlah 9 KAP. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah seluruh auditor yang ada di KAP di Palembang yaitu berjumlah 62 auditor. Dalam penelitian ini criteria penentuan sampel tidak dibatasi oleh jabatan auditoe pada KAP (partner, senior, atau junior auditor) sehingga semua auditor yang bekerja di KAP Palembang dapat diikutsertakan sebagai responden.
3.    Jenis Sumber Daya
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian (Indriantoto, 2009). Data-data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui metode survey menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden.
4.    Teknik Analisis Data
MSI (Method of Successive Internal)
            Jenis data yang terkumpul dari kuesioner merupakan data nominal dan ordinal, khususnya yang menyangkut identitas/karakteristik responden. Sedangkan data yang menyangkut jawaban berskala likert, pada dasarnya adalah data ordinal. Oleh karena itu, untuk keperluan analisis dara ordinal perlu ditransformasikan notasi masing-masing jawaban tersebut menjadi data internal dengan menggunakan method of successive internal (Sumarsono, 2002) untuk menetapkan skor (scale value) tiap-tiap butir pertanyaan.
Uji Kualita Data
            Menurut Hair dalam Poniman (2004), kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrument penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas.
Uji Validitas (Ketapatan)
            Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2008). Pendekatan yang digunakan dalam uji validitas (analisis butir) pada penelitian ini adalah dengan membandingkan nilai r (corrected item-total correlation) dengan r table sehingga dapat diketahui item pertanyaan mana yang gugur dan sahih. Item butir pertanyaan sahih jika r hitung > r table (Ghozali, 2009)
            Uji Reliabilitas (Konsistensi)
            Uji reliabilitas digunakan untuk menunjukkan ukuran kestabilan dan konsistensi dari konsep ukuran instrument atau alat ukur, sehingga nilai yang diukur tidak berubah dalam nilai tertentu. Konsep reliabilitas menurut pendekatan ini adalah konsistensi diantara butir-butir pernyataan atau pernyataan dalam suatu instumen. Reliabilitas diukur dengan uji statistic cronbach alpha (a), nunally dalam Ghozali (2009) menyatakan bahwa suatu konstruk atau nilai variable dikatakan reliable jika nilai cronbach alpa > 0,60.
Analisis Kualitatif
            Analisis statistic deskriptif adalah yang berbetuk uraian dari hasil penelitian yang didukung oleh teori dan data yang telah ditabulasi kemudian diikhtisarkan. Analisis ini digunakan untuk memperkuat analisis kuantitatif (Sugiyono, 2008).
Uji Asumsi Klasik
            Pengujian asumsi klasik yang terdiri dari asumsi normalitas, heteroskedastisitas, dan multikolinieritas.
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable dependen dan independen keduanya memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2009). Uji normalitas dalam penelitian ini dapat ditempuh dengan menggunakan grafik normal probability plot yang dimana data terlihat menyebar mengikuti garis diagonal dan diagram histogram yang tidak condong kekiri dan kekanan sehingga dapat dikatakan data berdistribusi normal.
Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan lain tetap, maka disebus homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik plot. Pada grafik plot, jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).
Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variable bebas (independen). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas didalam model regresi yaitu dengan melihat (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance infitation factor (VIF)
Analisis Regresi Berganda
            Penelitian ini menggunakan model analisis regresi berganda, hal ini menunjukkan hubungan (korelasi) antara kejadian yang satu dengan kejadian lainnya. Analisis tersebut dapat digunakan untuk melihat pengaruh variable independen terhadap variable dependen, dengan model analisis sebagai berikut: Y= a + b X  + b X  + b X  + b X+b X  +b X  +e
5.    Uji Hipotesis
Uji F
            Untuk menguji hipotesis pertama (H1) maka dilakukan uji F atau simultan, dimana uji statistic F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variable independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variable terkait atau dependen. Kesimpulan yang diambil dalam uji F ini adalah signifikasi 0,05 atau 5% untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima atau ditolak.
Uji t
   Untuk menguji hipotesis kedua (H2) sampai hipotesis ke lima (H7) maka dilakukan uji t. uji t dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing variable independen secara parsial berpengaruh terhadap variable dependen. Kesimpulan yang diambil dalam uji t ini signifikasi 0,05 atau 5% atau keyakinan 95%.
Koefisien Determinasi
            Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variable-variabel independen dalam menjelaskan variasi variable dependen amat terbatas. Nilai yang mndekati satu berarti variable-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variable dependen, semakin mendekati nilai 1 atau 100%, maka semakin besar pengaruh variable independen terhadap variable dependen (Ghozali, 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.    Uji Kualitas Data
Uji Validitas
            Pengujian validitas instrument dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 19.0, nilai validitas dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation. Jika angka korelasi yang diperoleh lebih besar dari pada angka kritik (rhitung > rtabel) maka instrument tersebut dikatakan valid. Angka kritik pada penelitian ini adalah df= N-2= 57-2 = 55 dengan taraf signifikan 5% maka angka kritik untuk uji validitas pada penelitian adalah 0,265.
Tabel 1
Hasil Uji Validitas
No
Variabel
r   hitung
r   table
Keterangan
1
Pengabdian pada Profesi
0,303** - 0,888**
0,265
Valid
2
Kewajiban Sosial
0,463** - 0,712**
0,265
Valid
3
Kemandirian
0,827** - 0,952**
0,265
Valid
4
Keyakinan terhadap Profesi
0,562** - 0,738**
0,265
Valid
5
Hubungan Dengan Sesama Profesi
0,363** - 0,865**
0,265
Valid
6
Etika Profesi
0,761** - 0,867**
0,265
Valid
Sumber : Data Primer yang diolah, 2012
Uji Reliabilitas
            Teknik statistic yang digunakan untuk pengujian tersebut dengan koefisien cronbach’s alpha dengan bantuan program software SPSS versi 19.0. Alpha merupakan uji reliabiltas untuk alternative jawaban lebih dari dua. Menurut Ghozali (2005;42) suatu instrument dikatakan reliable jika memiliki koefisien cronbach’s alpha.
Tabel 2
Hasil Uji Reliabilitas
No
Variabel
Cronbach’s
Alpha
Batas
Reliabilitas
Keterangan
1
Pengabdian pada Profesi
0,773
0,6
Reliabel
2
Kewajiban Sosial
0,626
0,6
Reliabel
3
Kemandirian
0,893
0,6
Reliabel
4
Keyakinan terhadap Profesi
0,680
0,6
Reliabel
5
Hubungan Dengan Sesama Profesi
0,806
0,6
Reliabel
6
Etika Profesi
0,854
0,6
Reliabel
Sumber: Data Primer yang diolah, 2012
Uji Asumsi Klasik
            Uji Normalitas
Gambar 1
Grafik Uji Normalitas
Gambar 2
Histogram Uji Normalitas
Uji Heteroskedastisitas
Gambar 3
Grafik Uji Heteroskedastisitas
Uji Multikolinieritas
            Multikolinieritas dapat dilihat pada tolerance value atu variance inflation factor (VIF). Apabila tolerance value dibawah 0,10 atau nilai VIF diatas 10 maka terjadi multikolinieritas (Ghozali, 2009)
Table 3
Hasil Uji Multikolinieritas
Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
1               (Constant)
Pengabdian terhadap profesi
Kewajiban Sosial
Kemandirian
Keyakinan Terhadap Profesi
Hubungan Sesama Profesi
Etika Profesi
,945
,763
,709
,905
,927
,937
1,058
1,311
1,411
1,105
1,079
1,067
Uji Hipotesis
Uji F
            Uji F digunakan untuk menguji tingkat signifikansi koefisien regresi variable indepen secara simultan terhadap variable dependen, yaitu dengan memperhatikan signifikan uji F pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan uji F lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variable independen terhadap variable dependen.
Tabel 4
Hasil Uji F
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1               Regression
Residual
Total
748,730
1128,464
1877,195
6
50
56
124,788
22,569
5,529
a
,000
a.       Predictors: (Constant), Etika Profesi, Kewajiban Sosial, Keyakinan Terhadap Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Pengabdian Terhadap Profesi, Kemandirian
b.      Dependent Variabel: Tingkat Materialitas
Sumber : Data Diolah SPSS
           
            Uji t
                        Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variable independen secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable dependen, yaitu dengan memperhatikan signifikan uji t pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan uji t lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variable independen terhadap variable dependen.
Table 5
Hasil Uji t
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1               (Constant)
Pengabdian terhadap profesi
Kewajiban Sosial
Kemandirian
Keyakinan Terhadap Profesi
Hubungan Sesama Profesi
Etika Profesi
14,774
,054
,054
,826
,805
,125
1,575
11,243
,228
,260
,333
,289
,175
,329
,027
,026
,323
,322
,081
,543
1,314
,236
,207
2,480
2,791
,713
4,791
,195
,815
,837
,017
,007
,479
,000
a.       Dependent Variabel: Tingkat Materialitas
1.      Pengaruh pengabdian terhadap profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis variable pengabdian terhadap profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,815 dan thitung 0,236. Oleh kerena p value lebih besar dari 0,05, maka pengabdian terhadap profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
2.      Pengaruh kewajiban sosial terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis variable kewajiban sosial diperoleh nilai p value sebesar 0,837 dan thitung 0,207. Oleh karena p value lebih besar dari 0,05, maka kewajiban sosial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
3.      Pengaruh kemandirian terhadap tingkat materialitas
Dari hasil pengujian hipotesis variable kemandirian diperoleh nilai p value sebesar 0,017 dan thitung 2,480. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka kemandirian berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
4.      Pengaruh keyakinan terhadap profesi terhadap tingkat materialitas
Dari hasil pengujian hipotesis variable keyakinan terhadap profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,007 dan thitung 2,791. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka keyakinan terhadap profesi berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
5.      Pengaruh hubungan sesame profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis variable hubungan dengan sesame profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,479 dan thitung 0,731. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka hubungan dengan sesame profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
6.      Pengaruh etika profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis variable etika profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,000 dan thitung 4,791. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka etika profesi berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
Hasil Persamaan Regresi
Tabel 6
Hasil Persamaan Regresi
Model
Unstandardized Coefficients
B
Std. Error
1               (Constant)
Pengabdian terhadap profesi
Kewajiban Sosial
Kemandirian
Keyakinan Terhadap Profesi
Hubungan Sesama Profesi
Etika Profesi
14,774
,054
,054
,826
,805
,125
1,575
11,243
,228
,260
,333
,289
,175
,329
a. Dependent Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data Diolah SPSS
Y= 14.774 + 0,054 X1 + 0,054 X2 + 0,826 X3 + 0,504 X4+ 0,125X5+ 1,575X6
Analisis Koefisien Determinasi (R2)
            Koefisien determinasi (R2) mengukur berapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variable independen.
Table 7
Hasil Koefisien Determinasi (R2)
Model
R
R
Square
Adjusted
R
Square
Std.
Error of
the
Estimate
1
a
,632
,399
,327
475,071
a. Predictors: (Constant), Etika Profesi, Kewajiban Sosial, Keyakinan pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Pengabdian
pada Profesi, Kemandirian b. Dependent Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data Diolah SPSS
PEMBAHASAN
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable pengabdian terhadap profesi yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai pengabdian terhadap profesi (sign t) 0,815 > 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, pengabdian terhadap profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung,  dan diketahui nilai thitung,  0,236 < ttabel 2,008, artinya pengabdian terhadao profesi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa pengabdian terhadap profesi tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable kewajiban sosial yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai kewajiban sosial (sign t) 0,837 > 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, kewajiban sosial dapat pula dilihat dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 0,207 <  ttabel 2,008, artinya kewajiban sosial secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi dan Mardiyah (2006) yang menyatakan bahwa kewajiba sosial tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable kemandirian yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai kewajiban sosial (sign t) 0,017 < 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, kemandirian dapat pula dilihat dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 2.480 > ttabel  2,008, artinya kemandirian secara parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Theresia dkk (2003) dan Rahmawati (1997) yang menyatakan bahwa kemandirian berpengaruh terhadap pertimbangan materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable keyakinan terhadap profesi yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai keyakinan terhadap profesi (sign t) 0,007 < 0,005. Selain dilihat dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 2,791 > ttabel 2,008, artinya keyakinan terhadap profesi secara parsial berpengaruh terhdap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa keyakinan terhadap profesi berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable hubungan sesame profesi yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai hubungan sesame profesi (sign t) 0,479 > 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilutas, hubungan sesama profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 0,713 < ttabel   2,008, artinya hubungan sesama profesi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sehalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa hubungan sesame profesi tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variable etika profesi yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai etika profesi (sign t) 0,000 < 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, etika profesi dapat pula dilihar dari nilai thitung dan diketahui nilai thitung 4,791 > ttabel 2,008, artinya etika profesi secara parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arleen Herawaty dan Yulius Susanto (2009) yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kesimpulan sebagai berikut Secara simultan Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Materialitas. Sedangkan secara parsial variable Profesionalisme Auditor yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, ada tiga variable yang berpengaruh terhadap tingkat materialitas yaitu : Kemandirian, keyakinan terhadap profesi, dan etika profesi. Sedangkan pengabdian terhadap profesi, kewajiban sosial dan hubungan sesame profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
DAFTAR PUSTAKA
            Agoes, Sukrisno (2004). Auditing Pemeriksaan Akuntan oleh Kantor Akuntan Publik . Jakarta: LPEE_UI.
            Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Progaram SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Dipenogoro.
            Hastuti, Dwi, Theresia, dkk, Hubungan Antara Profesionalisme Auditor Dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas Dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan, Simposium Nasional Akuntansi VI, Jakarta, 2003.
            Herawaty, Arleen dan Yulius Kurnia Susanto. Profesionalisme, Pengetahuan Akuntan Publik dalam Mendeteksi Kekeliruan, Etika Profesi dan Pertimbangan Tingkat Materialitas. The 2nd National Conference UKWMS, Surabaya, 2009.
            Indriantoro, Nur, Bambang Supomo, Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen Ed 1, BPFE, Yogyakarta, 1999.
            Rahmawati, Hubungan antara Profesionalisme Internal Auditor dengan Kinerja Tugas, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Keinginan Untuk Pindah, Tesis S2 Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1997.
            Rifqi, Muhammad, Analisis Hubungan Antara Profesionalisme Auditor Dengan Pertimbangan tingkat Materialitas Dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan, Jurnal Fenomena, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2008.
            Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian. Bandung. Penerbit: CV. Alfabeta, 2007.
            Sumarsono, Metode Penelitian Akuntansi, Beserta Contoh Intepretasi Hasil Pengolahan data. (2002).
            Syahrir, Analisis Hubugan Antara Profesionalisme Akutan Publik Dengan Kinerja, Kepuasan Kerja, Komitmen, dan Keinginan Berpisah, Tesis S2, Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 2002.
            Wahyudi, Hendro dan Aida Ainul Mardiyah. Pengaruh Profesionalisme Auditor terhadap Tingkat Materialitas dalam Pemeriksaan Laporan Keuangan Simposiun Nasionala Akuntansi IX Padang, 2006.

Kelompok 
Kelas : 4EB14
1. Dwi Indah Nurvitriani (22211241)
2. Hidayat (23211274)
3. Ona Sendri Imelda K (25211469)
4. Rina Mega Ardita (28211730)
5. Sri Novita Elsa (26211873)
6. Resty Puji Riati (26211010)
7. Geavany Adisty Napalia (23211019)
8. Khairunnisa Ain Sholihah (23211963)
9. Bimo Wicaksono (21211496)
10. Tria Oktaviani (28211744)